Transformasi digital bukan tentang memindahkan formulir kertas menjadi formulir elektronik. Tujuannya adalah membuat pemerintahan bekerja lebih sederhana, lebih terhubung, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat

Beberapa tahun terakhir, hampir setiap instansi pemerintah berlomba membangun aplikasi digital. Mulai dari sistem perencanaan, penganggaran, pengadaan, kepegawaian, hingga pelayanan publik, semuanya mulai beralih ke platform elektronik. Dari luar, perubahan ini terlihat sebagai kemajuan yang signifikan.
Namun, di balik itu semua, saya justru melihat tantangan yang berbeda.
Masih banyak aparatur yang harus mengisi data yang sama ke beberapa aplikasi. Laporan yang serupa dibuat berkali-kali dengan format yang berbeda. Tidak sedikit pula sistem yang sebenarnya memiliki tujuan hampir sama, tetapi berjalan sendiri-sendiri karena dikembangkan oleh instansi yang berbeda.
Pada titik ini, saya mulai bertanya: apakah kita benar-benar sedang melakukan transformasi digital, atau sekadar memindahkan proses manual ke dalam bentuk digital?
Digitalisasi memang membawa banyak manfaat. Dokumen menjadi lebih mudah diakses, proses administrasi lebih cepat, dan informasi lebih mudah didistribusikan.
Namun, digitalisasi tidak otomatis menyelesaikan masalah jika proses bisnis yang mendasarinya masih sama.
Bayangkan sebuah proses yang sebelumnya membutuhkan tiga formulir kertas. Setelah didigitalisasi, ketiga formulir tersebut berubah menjadi tiga formulir elektronik. Prosesnya memang tidak lagi menggunakan kertas, tetapi jumlah pekerjaan yang harus dilakukan tetap sama.
Semangat utama SPBE bukanlah membangun aplikasi sebanyak mungkin. Justru sebaliknya, SPBE mendorong pemerintah untuk membangun sistem yang saling terhubung sehingga data tidak perlu diinput berulang.
Data yang telah tersedia seharusnya dapat dimanfaatkan kembali oleh berbagai layanan sesuai kewenangannya. Dengan pendekatan ini, aparatur tidak lagi disibukkan oleh pekerjaan administratif yang berulang, tetapi dapat lebih fokus pada pekerjaan yang memberikan nilai tambah.
Integrasi data menjadi kunci.
Tanpa integrasi, setiap aplikasi hanya akan menjadi "pulau-pulau digital" yang berdiri sendiri.
Membangun aplikasi relatif lebih mudah dibandingkan membangun kolaborasi.
Dalam praktiknya, setiap instansi memiliki kebutuhan, prioritas, dan sistem yang berbeda. Akibatnya, data sering kali tersimpan dalam format yang tidak seragam sehingga sulit dimanfaatkan bersama.
Selain aspek teknis, perubahan budaya kerja juga menjadi tantangan. Transformasi digital membutuhkan komitmen untuk berbagi data, menyederhanakan proses bisnis, dan melihat pelayanan publik sebagai tanggung jawab bersama.
Menurut saya, keberhasilan SPBE tidak diukur dari jumlah aplikasi yang dimiliki pemerintah.
Keberhasilannya justru terlihat ketika masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang lebih cepat, aparatur tidak lagi mengerjakan hal yang sama berulang kali, dan data dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang benar-benar menentukan keberhasilan transformasi adalah bagaimana kita menggunakannya untuk membuat pemerintahan bekerja lebih baik.
Teknologi berkembang sangat cepat. Yang menentukan keberhasilannya bukan siapa yang pertama mencoba, tetapi siapa yang paling siap membangun ekosistemnya
AI tidak hadir untuk menggantikan aparatur. Ia hadir untuk mengurangi pekerjaan yang berulang agar aparatur memiliki lebih banyak waktu untuk melayani masyarakat